Rabu, 03 Desember 2025, Desember 03, 2025 WIB
Last Updated 2025-12-03T14:52:34Z
EventNasionalTrending

Segera Gelar Pentas Teater "Di Balik Langit GAZA" di TIM Jakarta, Target 2.400 Penonton

 

Konferensi pers Palestine Festival yang diselenggarakan di Gudskul, Jagakarsa, pada Ahad [30/11] sebagai rangkaian menuju event kemanusiaan akhir tahun 2025. Acara ini memperkenalkan teater bertema keteguhan rakyat Gaza dalam menghadapi genosida. Konferensi pers turut dihadiri para pemain teater: David Chalik, Bella Fawzi, Robert Chaniago, dan Cholidi Asadil Alam.



JAKARTA | Ci.com  - Gudskul, Jagakarsa, Ahad siang akhir November. Ruangan kecil berisi kursi lipat, spanduk, dan kopi panas itu tiba-tiba berubah seperti pintu gerbang ke Gaza. 


Di tengah sorot kamera dan kalimat pembuka para jurnalis, Adara Relief International memperkenalkan sebuah perjalanan emosional: teater bertema keteguhan rakyat Gaza dalam menghadapi genosida. 


Empat nama aktor disebut, satu per satu, seolah membuka daftar lakon perang yang tak pernah usai: David Chalik. Bella Fawzi. Robert Chaniago. Cholidi Asadil Alam.


Mereka bukan datang untuk membintangi film layar lebar atau drama televisi. Mereka datang untuk menghidupkan kisah keluarga yang bertahan di bawah langit yang dipenuhi bom, di panggung Teater Besar Taman Ismail Marzuki pada 28 Desember mendatang. 


Palestine Festival—atau Palfest—kembali hadir, mengusung tema Never-Ending Resilience for Humanity. Sebuah kalimat panjang tentang daya tahan manusia, tapi ringkas maknanya: Gaza tidak menyerah.


Maryam Rachmayani, Direktur Utama Adara Relief International, berdiri di depan backdrop putih bertuliskan “Palestine Festival 2”. 


Wajahnya lurus, kalimatnya pelan tapi terukur. “Dua tahun genosida di Gaza membuktikan bahwa Palestina adalah bangsa yang tangguh,” ujarnya. 


Poster "Di Balik Langit GAZA" (Sumber : Panpel)


Baginya, festival ini bukan sekadar acara akhir tahun. Ia adalah peringatan—bahwa ada tragedi yang terus berlangsung, jauh dari acara musik kita, jauh dari hiruk-pikuk mal yang penuh menjelang liburan.


Tahun ini, Palfest tidak hanya bicara jumlah donasi atau poster kampanye. Adara memilih bahasa yang lain: bahasa seni, bahasa panggung, bahasa rasa. 


Dalam kata Maryam, “Mereka mempertahankan tanah airnya. Karena itu festival tahun ini mengangkat tema keteguhan yang tak pernah selesai.”


Palfest menghadirkan teater “Di Balik Langit Gaza”. Judul itu terdengar puitis, tapi isinya jauh dari romantis. Ia berbicara tentang ruang keluarga yang pecah karena ledakan; tentang suara azan yang tertelan sirene; tentang seorang ibu yang menyimpan roti terakhir untuk anak bungsunya.


Bella Fawzi, salah satu pemeran, berkata pelan, “Kalau kita ingin melihat kualitas manusia, lihatlah ketahanan rakyat Gaza.” Ia berhenti sebentar, seolah kalimat itu terlalu berat untuk diucapkan sekaligus. “Lewat teater ini, aku ingin mewakili suara mereka yang dibungkam.”


Baginya, panggung adalah media penyampai suara—bukan peran. Ia bukan sekadar aktris televisi yang berpindah panggung. Ia datang dengan kelelahan emosional yang harus ia pelajari, ulang-ulang, agar tetap jujur.


Di sudut ruangan, Adipatilawe—sutradara teater ini—berbicara lirih. Para pemain memanggilnya “Lawe”. 


Ia bercerita tentang satu keluarga di Gaza; bukan 100 korban, bukan deretan data. Satu keluarga saja. Itu cukup untuk memeras isi dada penonton.


“Pentas ini lahir dari keteguhan sebuah keluarga,” katanya. “Kami ingin menghadirkan bukan hanya kisah, tapi makna dan rasa.”


Rasa. Di panggung nanti, penonton tidak akan diberi narasi propaganda. Mereka akan diberi keheningan: saat lampu padam setelah suara ledakan terakhir, saat aktor menatap kursi kosong yang mewakili seseorang yang tidak pernah kembali.


Palfest tidak berhenti pada teater. Ada pameran seni, instalasi tematik, kain tenun Palestina, motif bordir tatreez yang dijahit perempuan-perempuan di kamp pengungsian. “Palestina bukan hanya tentang perang,” kata Iffa Abida, Ketua Pelaksana. “Palestina memiliki akar budaya ribuan tahun.”


Di satu sudut TIM nanti mungkin akan ada foto rumah-rumah hancur, tapi di sudut lain ada lukisan kota tua Al-Khalil. Festival ini adalah duel tarik-menarik antara tragedi dan budaya. Adara ingin menampilkan keduanya sekaligus—bahwa bangsa yang diserbu itu juga adalah bangsa yang berpuisi, menari dabke, dan membangun perpustakaan sebelum puing-puing menutupnya.


Target pengunjung Palfest: 2.400 orang. Angka itu tampak kecil di hadapan jumlah korban, tapi besar untuk sebuah panggung yang mencoba menjadi juru bicara tragedi yang tak terlihat.


David Chalik dan Robert Chaniago, dua aktor lain, mengatakan mereka ingin tampil seautentik mungkin. Cholidi Asadil Alam, yang pernah memerankan Azzam dalam film Ketika Cinta Bertasbih, menyebut karakter yang ia pegang kali ini “berbeda dan berat secara moral.”


Ada kalimat yang ia ucapkan, singkat tapi memantul lama: “Saya rasa, kita semua dapat banyak belajar dari cara Adara mengangkat isu Palestina.”


Tiket diperjualkan di kanal resmi. Informasi mengalir melalui akun Instagram @palfest.id. Dari panggung teater ke pameran seni, dari suara azan yang terselip di antara sirene, hingga gulungan kain bertulisan puisi Mahmoud Darwish—Palfest tampak seperti cara baru memaknai kata “peduli”.


Paling tidak, 2.400 orang akan duduk menyaksikan keteguhan di bawah langit Jakarta.
Sementara di Gaza, langit masih pecah hingga tulisan ini dibuat.

Seni, barangkali, tidak akan menghentikan perang. Tetapi ia bisa menjaga suara-suara yang ingin dibungkam.

TEKS / FOTO : RELEASE / IMRON SUPRIYADI  |  EDITOR  : WARMAN PLUNTAZ

Informasi terkait acara ini lebih lanjut dapat dipantau melalui kanal media instagram Palestine Festival di @palfest.id dan situs resmi tiket.adararelief.com.

Tag Terpopuler