Selasa, 17 Maret 2026, Maret 17, 2026 WIB
Last Updated 2026-03-25T13:19:50Z
DaerahKabudayaanTrending

Kita Berlari Seperti Kuda, Tapi ke Mana? (Kontekstualisasi Suroh Al-Adiyat)

Oleh Imron Supriyadi, saat memberi Materi Kuliah Subuh di Masjid Nurul Hidayah Komplek Township PTBA Tanjung Enim, 16 Maret 2026



Ada sesuatu yang ganjil pada manusia modern hari ini: ia berlari lebih cepat dari kuda perang mana pun, tetapi justru tidak tahu ke mana arah larinya.


Kita hidup di zaman di mana kecepatan adalah agama baru. Bangun tidur, tangan kita tidak lagi menyentuh air wudhu, tetapi langsung menyentuh layar.


Dunia belum benar-benar sadar, tetapi kita sudah lebih dulu tenggelam dalam notifikasi. Kita seperti kuda-kuda dalam sumpah awal Surah Al-Adiyat—berlari kencang, terengah-engah—tetapi tanpa medan jihad yang jelas, tanpa tujuan ruhani yang pasti.


Padahal, Al-Qur’an tidak sedang sekadar bercerita tentang kuda. Ia sedang bercerita tentang kita.


kuda berlari, kuku memercikkan api, serangan di pagi hari, debu beterbangan, lalu menembus barisan musuh.

Ini bukan sekadar visual peperangan, melainkan metafora energi kehidupan.


Para mufasir seperti Ibn Kathir, Al-Tabari, dan Al-Qurtubi melihatnya sebagai sumpah Allah atas kesungguhan makhluk dalam menjalankan tugasnya. Kuda itu setia. Kuda itu total. Kuda itu tidak menawar perintah.


Sementara para sufi seperti Al-Ghazali dan Ibn Arabi justru melihat lebih dalam: kuda itu adalah jiwa manusia.


Di sini, kita mulai merasa “tersindir pelan”. Karena kalau kuda saja bisa setia berlari sampai napasnya terengah-engah demi tuannya, mengapa manusia sering berhenti di tengah jalan ketika menuju Tuhannya?


Mari kita lihat diri kita hari ini. Kita punya energi luar biasa. Kita bisa bekerja 10 jam sehari, begadang demi target, bahkan rela stres demi sesuatu yang kita sebut “masa depan”.


Kita bisa seperti ayat kedua:  memercikkan api. Ide, ambisi, kreativitas—semuanya menyala.


Tetapi pertanyaannya sederhana: api itu untuk siapa?


Dalam tafsir tasawuf, percikan api adalah iman yang lahir dari gesekan perjuangan. Semakin keras kita menempa diri, semakin terang cahaya dalam hati.


Masalahnya, manusia modern sering menempa dirinya bukan untuk cahaya, tetapi untuk citra. Kita lebih sibuk terlihat berhasil daripada menjadi benar. Kita lebih takut gagal di mata manusia daripada gagal di hadapan Allah.


Ayat ketiga berbicara tentang serangan di waktu pagi. Ini menarik.


Dalam tradisi Islam, pagi bukan hanya soal waktu, tetapi soal kesadaran. Orang-orang yang dekat dengan Allah memulai harinya dengan dzikir, shalat, dan keheningan batin.


Sekarang kita bandingkan. Berapa banyak dari kita yang bangun pagi dengan tenang, tanpa langsung membuka ponsel? Berapa banyak yang benar-benar “hadir” sebelum dunia menariknya ke dalam kebisingan?

Serangan pagi dalam ayat itu bisa dibaca sebagai seruan: kuasai harimu sebelum harimu menguasaimu. Kalau tidak, kita akan terus hidup reaktif, bukan reflektif.


Lalu ayat keempat dan kelima: debu beterbangan dan penyerbuan ke tengah musuh.


Dalam tasawuf, debu itu adalah gejolak jiwa. Takut, harap, rindu—semua bercampur. Perjalanan menuju Allah memang tidak selalu tenang. Kadang kita gelisah, kadang kita merasa jauh, kadang kita ragu.


Tetapi justru di situlah kehidupan ruhani itu nyata. Yang berbahaya bukanlah kegelisahan.


Yang berbahaya adalah mati rasa. Dan inilah penyakit besar manusia modern: bukan tidak punya iman, tetapi kehilangan rasa terhadap iman.


Tiba-tiba, setelah lima ayat penuh energi itu, Al-Qur’an berbelok tajam. “Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar kepada Tuhannya.”


Kalimat ini seperti tamparan. Setelah menggambarkan makhluk yang begitu setia (kuda), Allah langsung mengontraskan dengan manusia yang justru sering lupa.


Dalam bahasa tafsir, kata kanud berarti tidak tahu berterima kasih. Dalam bahasa sehari-hari kita: mudah lupa.


Manusia itu unik. Ketika diberi nikmat, ia merasa itu hasil kerja kerasnya. Ketika diuji, ia langsung merasa Tuhan tidak adil. Padahal, yang berubah bukan Tuhan. Yang berubah adalah kesadaran kita.


Ayat berikutnya lebih dalam lagi: manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri.


Ini seperti cermin batin. Kita sebenarnya tahu mana yang benar dan mana yang salah. Kita tahu kapan kita tulus dan kapan kita pura-pura. Kita tahu kapan kita dekat dengan Allah dan kapan kita menjauh.


Tetapi kita sering pandai mengalihkan perhatian dari suara hati itu. Kita sibuk, supaya tidak sempat jujur pada diri sendiri.


Lalu datang ayat yang sangat relevan dengan zaman ini: manusia sangat kuat cintanya kepada harta.


Kalau kita jujur, ini bukan sekadar tentang uang. “Harta” hari ini bisa berupa banyak hal: popularitas, pengakuan, validasi sosial, bahkan jumlah “like” dan “followers”.


Kita hidup di dunia di mana nilai seseorang sering diukur dari apa yang ia miliki, bukan dari siapa dirinya.


Dalam tasawuf, ini disebut hubbud dunya—cinta dunia yang berlebihan. Masalahnya bukan dunia. Masalahnya adalah ketika dunia menjadi pusat, dan Tuhan menjadi pinggiran.


Ayat 9 sampai 11 membawa kita pada klimaks: hari ketika kubur dibongkar dan isi dada ditampakkan.


Ini bukan sekadar cerita akhirat. Ini adalah cara Al-Qur’an mengajak kita melihat kehidupan dari perspektif yang lebih luas. Bahwa semua yang kita kejar hari ini, pada akhirnya akan ditinggalkan.


Bahwa semua yang kita sembunyikan hari ini, pada akhirnya akan dibuka. Dan bahwa tidak ada satu pun yang luput dari pengetahuan Allah.


Di titik ini, Surah Al-Adiyat seakan bertanya kepada kita:


Kalau kuda saja bisa setia kepada tuannya, mengapa manusia sering tidak setia kepada Tuhannya?


Ini bukan pertanyaan teologis. Ini pertanyaan eksistensial. Mungkin problem terbesar manusia modern bukanlah kurangnya ilmu, tetapi kurangnya arah.


Kita tahu banyak hal, tetapi tidak tahu untuk apa kita hidup. Kita punya teknologi, tetapi kehilangan makna. Kita terkoneksi dengan dunia, tetapi terputus dari diri sendiri.


Di sinilah spiritualitas menjadi kebutuhan, bukan sekadar pilihan. Bukan spiritualitas yang melarikan diri dari dunia, tetapi yang memberi makna pada dunia. Bukan yang membuat kita lemah, tetapi yang membuat kita utuh.


Kalau kita membaca Surah Al-Adiyat dengan hati, kita akan menemukan satu pesan sederhana:


  • Hiduplah seperti kuda yang tahu untuk siapa ia berlari.
  • Bekerjalah, berjuanglah, berkaryalah—tetapi jangan kehilangan arah.
  • Berlarilah kencang, tetapi pastikan tujuanmu adalah Allah.
  • Karena pada akhirnya, bukan seberapa cepat kita berlari yang akan ditanya, tetapi ke mana kita berlari.

Muaraenim, 16 Maret 2026  / 23 Ramadhan 1447 H

Disarikan dari Materi Kuliah Subuh di Masjid Nurul Hidayah, Komplek Tanah Putih (Townsite) PTBA Tanjung Enim.

 


Tag Terpopuler